Bahagia

21.44 Majapahit 0 Comments

Sabtu malam biasanya muda mudi pergi bersama teman teman mereka atau pasangan mereka untuk menghabiskan malam penyambut minggu ini.

Lain dengan diri ku, malam ini dua adik ku yang paling bungsu Alika dan Naila menagih janji ku kepada mereka.
Terlebih lagi Naila yang paling aktif sekali dalam berbicara di usianya, tidak seperti Alika yang pendiam. Ia terus bicara hingga aku pun tunduk pada kalimat kalimatnya yang diulang terus menerus.

Pasar malam, itu janji ku untuk mengantar mereka ke sana. Selama perjalanan ada sesuatu yang mengganjal di otakku. Sebenarnya apa yang membuat adik-adik ku ini ingin sekali pergi ke sana?
Ia mau dibelikan ice cream katanya, toh di dekat rumah ada warung yang menjual berbagai macam ice cream. "Oh mungkin di sana ice creamnya lebih nikmat dan menarik tampilannya." pikirku sesaat.

Setibanya di sana, ku lihat raut kesemangatan di wajah adik-adik ku. "Ayo mas!" katanya tidak sabar ingin cepat membeli buruannya sejak tadi. Padat, sesak dan gelap.
Hanya bercahayakan satu dua lampu bohlam di atas barang dagangan PKL pinggir pasar yang sedikit menerangi jalan.

Ku lihat banyak kebahagiaan di sana. Ada yang bahagia dengan permainan tangkap ikan, lempar bola, balap tamiya, dan masih banyak lagi. Canda dan tawa pun menjadi pelengkap suara pasar yang identik dengan keramaian.
"Mas, aku mau itu" pinta adik ku yang menunjuk ke arah gelang.
"Mas, aku mau beli gelang" ulangnya, karena aku berpura-pura seolah tidak mendengar kata katanya. "Cari ice creamnya dulu, nanti keburu habis" alihku agar tidak melulu minta dibelikan yang lain-lain karena uang yg kubawa tidaklah banyak.

Sesampainya di penjual ice cream, ternyata tidak seperti yang kubayangkan. Sederhana, dan sedikit berwarna karena toping strawbery.

Melihat ice creamnya yang menjulang tinggi ke atas, ku sarankan untuk mulai memakannya agar tidak tersenggol oleh desakan orang-orang di pasar.
kucari cara agar tidak bertemu si pedagang gelang.
Jalan bagian dalam pasar menjadi strategi ku kali ini. Ternyata strategi ku berhasil, ia lupa dengan gelang yang ingin dibelinya tadi.

Sepanjang jalan pulang, ku tertawa dalam hati seraya berkata "mungkin ketika tua menjadi kakek-kakek nanti aku yang akan dialihkan keinginannya oleh mereka."

Tiba di parkiran, kunyalakan motor dan tinggalkan pasar. Kini ku pun tahu apa yang sesungguhnya mereka cari di pasar malam. Bukan ice cream ataupun gelang, melainkan kebahagiaan bersama mereka yang sedang berbahagia di malam itu.

0 komentar: